Monday, October 08, 2012

Rasa Suka Relung yang Sedang di Uji


Rasa Suka Relung yang Sedang di Uji
(Sintha’s Story)

Aku nggak menyangka aku secengeng ini. Yah, terlalu banyak beban tugas dan pikiran, serta kejadian-kejadian yang membuat emosiku memuncak pada kesedihan. Dan satu-satunya yang ingin aku lakukan adalah berangkat Relung (teater), dan aku bisa teriak di sana (dengan olah vokal) atau sekedar menjadi orang lain di sana (sesuai peran yang diberikan sutradara). Tapi bagaimana aku bisa melakukannya, sedangkan salah satu masalahku itu pun berhubungan dengan Relung.
Well, tugas yang banyak dan berturut-turut membuat waktuku tersita, ditambah lagi setiap jam tujuh malam aku harus jalan ke FIP untuk latihan teater. Sejujurnya, aku nggak ingin latihan serajin ini awalnya. Tapi semenjak dikasih ceramah dari Mas Almost Perfect atau bisa dibilang tetua Relung (karena dia sudah semester X), aku sadar kalau niatku itu nggak benar. Yang aku ingat jelas adalah ketika ada suatu tawaran bermain, kita harus mempertimbangkan segalanya. Entah itu tempat latihan yang jauh, adanya jam malam, dilarang orang tua, atau nggak ada kendaraan. Semua harus dipikirkan dengan matang untuk menerima atau nggak tawaran main itu. Ketika keputusan kita adalah ‘ya’, maka kita harus menanggung semua resikonya. Bahkan sebelum kita meng’iya’kan, kita harus tahu dulu bagaimana untuk mengatasi masalah-masalah yang dapat menghambat kegiatan kita itu.
            Itulah hal yang nggak aku lakukan ketika aku menerima tawaran untuk casting (dan akhirnya terpilih). Memang aku awalnya menolak, tetapi aku kurang tegas menolak dan malah mengikuti casting. Dari apa yang udah disampaikan dia, aku merubah niatku. Aku akan berangkat terus dari Minggu sampai Kamis jam 7 sampai jam 9 malam. Lalu hari Jumat dan Sabtu sampai latihan selesai, biasanya jam 11 malam. Dan di dua hari tersebut aku akan menginap di kosan temanku. *semacam terdoktrin ya
            Yap, sampai sebelum kemarin malam semua baik-baik saja. Tapi akhirnya aku merasa tersindir juga oleh salah seorang penghuni kos. Well, aku mulai merasa nggak enak. Setelah aku masuk kamar malam itu, kebetulan ada temanku yang baru pulang mengajar. Dan dia diingatkan, atau semacam itulah, oleh ibu kos. Hampir setiap hari dia memang pulang di atas jam 9 malam karena kerjanya itu. Aku kurang terlalu dengar percakapan mereka di dekat kamarku itu, tapi intinya besar kemungkinan dia bisa dapat teguran entah dari masyarakat sekitar atau semua penghuni kos.
Hatiku semakin menciut. Aku makin bingung harus bagaimana. Rasanya hal yang percuma juga seandainya Relungers dan ‘sesepuh’nya turun tangan. Temanku yang jelas-jelas kerja mengajar saja tetap diperingatkan, bagaimana aku yang hanya sekedar bermain teater (seenggaknya di mata orang lain). Benar-benar sedih rasanya.
Aku semakin suka dengan Relung, tapi sepertinya peraturan jam malam akan jadi penghambat perasaan itu. Mas Almost Perfect dan banyak juga sih teman-teman yang bilang Relung sekarang kurang ada rasa cinta atau rasa memiliki Relung sehingga membuat Relung makin turun prestasinya. Aku nggak mau Relung makin turun dan mengecewakan. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku sendiri kesusahan untuk latihan.
Adanya jam malam yang begitu awal juga membuat aku semakin impossible mendapat peran yang lebih dari pada sebelum-sebelumnya. Bahkan di peranku sekarang, dialogku sedikit sekali dan hanya ada di satu act saja. Bukan karena skill yang aku punya. Memang skillku belum bagus, tapi aku yakin dengan adanya latihan, pasti skill bukan lagi masalah. Hanya saja yang paling berpengaruh adalah jam malam.
Begitu repot seandainya latihan diadakan dua kali dalam sehari untuk player yang nggak bisa latihan malam, seperti aku. Sedihnya aku ketika jam 9 kurang harus balik ke kos. Nggak enaknya aku karena satu pemain yang latihan harus mengantarku pulang. Dan makin sedihlah aku ketika aku terlambat pulang, mendapati pintu kos yang sudah dikunci dan harus memencet bel. Mengganggu mereka yang mungkin sudah istirahat.
Bagi orang lain mungkin ini cuma masalah jam malam. Masalah sepele. Tapi nggak untukku. Aku nyaman di kos ini, aku nggak mau sampai nggak disukai di sini. Aku takut. Di sisi lain, aku mulai suka lari-lari 2 atau 3 putaran bareng teman-teman Relung. Aku suka olah vokal, olah karakter bareng mereka. Aku mulai suka permainan freeze untuk melatih bloking di panggung. Aku mulai suka curhatan bareng dengan mereka. Aku suka melihat tingkah mereka yang kocak ketika beract. Aku kagum melihat beberapa di antara mereka yang begitu mudah menarik perhatian dan beracting dengan baik.
Perasaan ini ibarat kita mulai menyukai orang tetapi kita dilarang untuk menyukainya dan yang melarang kita adalah orang tua kita sendiri sehingga sangat berat untuk membantah larangan itu. Apa ini semacam ujian? Well, kalau iya, mungkin tahun ini aku akan gagal. Mungkin play sekarang adalah play terakhir untuk satu tahun ini, selama aku masih di tempat ini. Tahun depan pun kemungkinan besar masih di tempat yang sama yang berarti tetap nggak bisa ikut. Jadi? Aku cuma bisa berharap ada keajaiban. Hah, tapi mana ada keajaiban dalam hal seperti ini. Sekarang aku hopeless deh. Aku masih bagian dari Relung. Tapi dengan terpaksa aku nggak bisa membantu banyak. Dengan sedih, aku nggak bisa banyak mengambil peran di setiap event; Edsa Night, Makrab, Ospek, atau Laboratory. Dengan menyesal, aku cuma jadi penggembira di sebagian besar event-event itu.

0 comment:

Post a Comment

Powered by Blogger.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management