Friday, December 12, 2014

Potongan Kisah Pernikahan

Potongan Kisah Pernikahan


Dia datang. Berjalan pelan nan anggun dari balik tirai. Pita putih cantik merantai rambut panjang bergelombangnya yang ia sampirkan di sisi kiri. Mata bulat dengan bulu mata lentik yang menjadikan keelokan pada paras wajahnya. Aku yakin ada sedikit kecemburuan pada mempelai wanita karena separuh perhatian orang-orang tercuri oleh gadis itu. Bahkan mempelai lelaki pun tidak dapat membohongi kekaguman hati untuk si gadis.
Dia datang. Berjalan pelan nan anggun melewati barisan tempat duduk para tamu undangan, tersenyum. Sunggingan senyumnya tak tertahankan, begitu mempesona. Ingin sekali kusentuh dan kurasakan bibir kecil yang manis itu. Tapi tidak. Melihatnya membuat mataku lupa untuk berkedip, dan membuat jantungku lupa bagaimana berdegup normal. Tetapi akalku sadar dan terus meraungkan kata “TIDAK”.
“Sayang, pernikahan kita besok apa dibantu mahasiswa KKN juga seperti ini?” tanya Renita, calon istriku. Tentu saja harus. Tapi itu hanya keegoisanku agar aku dapat bertemu gadis itu. Aku pun hanya menjawab, “Iya, kita akan minta tolong mereka, tapi kalau jadwal mereka nggak berbenturan dengan kita.” Dalam diam, ada satu pertanyaan yang mengusik hati dan pikiranku, “Akankah pernikahanku dengan Renita terjadi?”
Malam itu, aku benar-benar tidak dapat tidur. Hatiku gusar, pikiranku kacau. Semua persiapan pernikahan telah siap. Undangan telah menyebar. Apa yang akan terjadi jika aku lebih memilih gadis itu daripada Renita? Tidak, tidak, tidak. Aku menggelengkan kepalaku dan membubarkan sederet kalimat itu. Aku pun keluar rumah, mencoba menenangkan diri. Tanpa kusangka, si gadis pun keluar dari posko KKNnya.
“Lho, Mbak Misha mau ke mana malam-malam gini?” tanyaku penasaran.
“Mau beli cemilan, Paduk, buat nemenin bikin laporan,” balasnya sambil tersenyum.
“Lha, kok nggak sama Mas Iwan, atau Mas Fauzi? Nggak baik lho perempuan keluar malam-malam sendirian.”
“Mereka lagi istirahat, Paduk, kecapekan seharian nyinom tadi.”
“Ya udah, kita bareng aja beli cemilannya. Sekalian aku juga mau beli rokok.” Misha terlihat ragu-ragu dan ingin menolak ajakanku. Tetapi melihat suasana jalanan yang sepi dan agak gelap, mungkin dia berpikir ulang. “Iya boleh deh, Paduk. Lagian Paduk kan kepala dukuh di sini, jadi lebih aman soalnya orang-orang segan sama Pak Dukuh,” katanya.
Kita menyusuri jalan setapak dalam keheningan. Hanya deru angin yang berbisik lewat dedaunan yang bergesek, teriringi lolongan anjing yang sesekali terdengar dari kejauhan, serta sebersit cahaya bulan yang sesekali terlihat dari balik pepohonan yang seolah menari bersama angin. Batinku berseteru dengan otakku, “Inikah saatnya aku mengutarakan isi hatiku?” Ketika batinku berseru “YA”, saraf otakku justru membentuk bibirku untuk bersuara, “Bagaimana proker kalian sejauh ini?” “Alhamdulillah, lancar, Paduk,” jawabnya singkat namun tetap ramah. Pada akhirnya, kita hanya membicarakan tentang proker-prokernya.
Sesampainya di rumah, rupanya Ibu telah menungguku dan melihatku bersama Misha. “Habis dari mana kamu?” tanya ibuku sesaat setelah aku menutup pintu rumah. “Keluar beli rokok, Bu.”
“Sama siswi KKN itu?”
“Misha namanya.”
“Ya, siapa lah itu,” katanya agak ketus. “Ibu mau ngomong serius sama kamu.” Aku menghela nafas dan mengikuti Ibu duduk di ruang tamu dengan malas, tahu bahwa aku akan berdebat lagi dengan Ibu.
“Ibu kan pernah bilang, Ibu nggak suka kamu terlalu dekat dengan perempuan itu. Kamu sadarkan kalau dua hari lagi kamu akan menikah? Gimana nanti kalau muncul fitnah? Kamu itu nggak tahu atau pura-pura nggak tahu sih kalau sudah banyak gosip nggak benar yang menyebar?”
“Ya ampun, Bu, itu kan cuma gosip. Jangan terlalu ditanggapi. Toh, pernikahanku tetap akan berjalan sesuai rencana. Nggak usah khawatir.”
“Kamu serius, kan? Kamu nggak ada rencana untuk membatalkan pernikahanmu sendiri, kan?” tanya ibuku penuh curiga. Aku sempat tidak menyangka mendengarnya. Bagaimana bisa Ibu tahu apa yang pernah terlintas di otakku itu. “Ibu ini ngomong apa sih? Ngapain juga aku membatalkan pernikahanku sendiri?”
“Edo, kamu nggak usah pura-pura sama Ibu. Ibu sadar kok kalau kamu itu mulai tertarik dengan siswi KKN itu sejak kamu pertama kenal dia, kan? Dan Ibu tahu kamu itu orangnya sering nekat. Makanya Ibu khawatir terus.”
Aku tidak bisa menyangkalnya lagi. Aku hanya berusaha membuat Ibu percaya bahwa aku tidak akan melakukan hal-hal aneh dan nekat. “Ya sudah. Sekarang kamu lebih baik tinggal di rumah Pakdhe Wahyu sampai hari pernikahan tiba. Ibu nggak mau kamu ketemu sama Misha!” kata Ibu tegas. Aku yang sudah malas berdebat pun menuruti maunya.
Cukup lama aku memandangi kamar Misha dari teras rumahku sebelum akhirnya aku menyalakan mesin motor dan berlalu pergi. Jalanan sepi di tengah-tengah hamparan sawah yang luas dan gelap, terasa menggalaukan ketika kulewati dan kulihat banyak kunang-kunang yang menyebar di sepanjang persawahan. Lagi-lagi, pikiranku kembali pada Misha yang sangat menyukai kunang-kunang. Misha benar-benar telah memenuhi pikiranku. Bibirnya, matanya, wajahnya, senyumnya, tawanya, suaranya, semua terekam jelas di otakku. Aku ingin sekali memilikinya. Apa perlu aku kabur dari pernikahanku sendiri dan menculiknya untuk kunikahi alias kawin lari? Ampun!
“Apa kamu nggak malu kalau pernikahanmu batal cuma karena mahasiswi KKN yang belum jelas latar belakang keluarganya seperti apa, dan pergaulannya bagaimana?! Kamu itu orang berpendidikan, jenjang S2, dan sudah jadi Kepala Dukuh. Kamu ini orang terpandang dan terhormat di sini. Mbok yo dijaga nama baikmu dan keluargamu ini!” Memikirkan akan batalnya pernikahan saja Ibu sudah marah-marah seperti itu, apalagi kalau aku kabur dan kawin lari, bisa geger di mana-mana nanti. Aku hanya dapat memasrahan diri, memohon yang terbaik untukku pada Sang Khaliq.
Hari pernikahan pun tiba dan aku terkejut. Bukan karena Misha, tetapi calon istriku, Renita. Dia begitu cantik dan terlihat sangat bahagia. Aku merasa begitu lama tidak melihatnya. Selain karena dia dipingit, Renita juga sebenarnya wanita karir yang cukup sibuk. Aku merasakan adanya kerinduan akan hari-hari yang kulewati dengan wanita ini. Hatiku bergemuruh. Melihat matanya, aku pun tersadar bahwa dialah yang sebenar-benarnya wanita yang kuinginkan tanpa sekalipun ingin kusakiti. Dialah wanita yang ingin kubahagiakan. Tidak akan tega aku melihat setetes air matanya jatuh. Tidak ingin. Dan akhirnya kumantapkan hati, kuucapkan basmalah, dan kalimat sakral nan suci di depan penghulu dan para saksi. Tidak akan ada Misha atau misha-misha yang lain yang akan mengacaukan hati dan pikiranku. Aku telah berjanji.

…Epilog…
Saat resepsi pernikahan, aku melihat Misha dan teman-temannya. Kami semua berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Misha, gadis itu tetap saja cantik. Aku masih mengagumi kecantikannya, tetapi hanya itu. Sudah tidak ada lagi keinginan atau harapan untuk memiliki seutuhnya. Dan sebuah kelegaan terasa di hatiku setelah aku melihat sebuah cincin emas melingkar di jari manis Misha. Ya Tuhan, ternyata dia telah menikah. Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya? Aku sungguh bodoh saat itu. Terlalu dibutakan oleh kecantikan dan nafsu. Untunglah aku tidak segera mengikuti hawa nafsuku dan terjerumus karenanya. Kini, aku sangat bersyukur, mendapatkan senyum bahagia Renita, juga senyuman semua orang.
 Putri Sintha
Powered by Blogger.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management