Wednesday, December 10, 2014

Dua Kata (Jati Diri)


Bosan. Jenuh. Aku tidak tahu kenapa aku harus lahir. Apa gunaku sesungguhnya? Layakkah aku hidup dan menjalani kehidupan ini? Siapa aku? Apa yang bisa kulakukan? Aku bisa apa? Berbagai pertanyaan hidup ini selalu menghantuiku. Sebenarnya apa makna dari kehidupanku? Aku sungguh tidak tahu. Aku hanya manusia biasa. Aku tidak memiliki keahlian khusus. Aku pun bukan orang jenius, atau minimal orang yang pintar di kelas di sekolah-sekolah. Aku bukan seorang yang fanatik pada agama yang rela mengorbankan nyawanya di jalan Tuhan. Bukan. Aku pun bukan seorang yang ateis yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan, dan hanya percaya pada apa yang bisa kulihat dan kuraba.

Menari, bersandiwara di panggung, berpaduan suara. Aku menyukainya. Aku bisa melakukan semua itu. Tapi aku hanya bisa, sekedar bisa, dan itu pun sesaat. Aku tidak menemukan bakatku di bidang-bidang itu. Aku tidak menemukan tempatku di sana. Bahkan menulis. Ah, aku tidak merasa ini tempatku. Aku kecil. Begitu pula tulisanku. Apa yang bisa kutulis? Kejenuhan hidupku? Sungguh payah.
Lalu siapa aku? Bahkan aku tidak tahu dan tidak paham siapa aku, jati diriku, dan tujuanku hidup. Aku tersesat, mungkin. Aku butuh bantuan, mungkin. Tapi siapa yang dapat membantuku? Aku harus keluar. Ya, harus. Tapi ke mana? Bagaimana jika aku makin tersesat? Bagaimana jika aku tidak menyukainya? Bagaimana jika dunia luar justru makin membuatku hancur? Bagaimana jika di sana aku menyadari bahwa aku memang tidak berguna? Adakah hal yang bisa kulakukan agar aku merasa baik? Bahkan berdiam diri, menatap sebuah leptop, mendengarkan musik, menonton film atau melakukan hal-hal yang aku sukai pun tidak bisa membuatku merasa baik. Bahkan bercanda tawa dengan teman sejawat pun tidak merubah kegalauan dan ketakutanku.
Ada apa denganku? Begini payahkah hidupku?
Aku tahu. Hidupku tidak akan berubah sampai aku merubahnya. Namun, bukankah teori memang lebih mudah diucap daripada dilakukan. Mudah, sungguh mudah memahaminya, tapi sangat sulit pada prakteknya.
Aku lelah. Aku sungguh merasa lelah. Lelah dengan hidupku yang selalu seperti ini, tidak ada yang bisa aku banggakan. Apa karena aku selalu membandingkan diriku dengan orang lain? Mungkin. Ah, memang iya. Tidak bisa dipungkiri bahwa aku selalu saja membandingkan diriku dengan orang lain yang lebih hebat dariku. Aku selalu bertanya-tanya, mengapa aku tidak seperti mereka? Mengapa aku tidak bisa? Bahkan ketika aku mencoba, seolah aku tahu itu sia-sia.
“Tentu sia-sia, karena kamu harus jadi dirimu sendiri, bukan menjadi mereka.”
Bagaimana bisa aku menjadi diri sendiri, bahkan aku sendiri tidak tahu menjadi diri sendiri itu bagaimana dan seperti apa? Bagaimana mungkin aku menjadi diri sendiri, sedangkan aku sendiri tidak tahu siapa aku.
Sial. Aku begini bodohnya. Aku begitu penakutnya, untuk menginjakkan kaki di dunia yang kejam. Sial. Mengapa aku harus menjadi orang yang pesimis? Aku mencoba keluar dari zona nyaman, tapi begitu aku tergoncang akan zona luar, aku memilih kembali ke zona ini.
Bagaimana hidupku akan berubah? 
Powered by Blogger.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management