Friday, July 13, 2012

Awan Yang Chrysta Suka (8)

Story 8
SUKIDA

Begitu tiba di kos, Chrysta langsung duduk di kasur dan menyandarkan diri. Bengong dan shock. Chrysta sebenarnya memang sempat menebak itu akan terjadi. Tapi, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Perasaannya campur aduk. Entah harus berekspresi sedih, kecewa, atau malah senang.
“Tadi ngobrol apa aja sama Cloud, Ta?” tanya Ryna, teman satu kos Chrysta yang kebetulan ada di TKP alias di pendopo saat itu. Chrysta menghela nafas. Ingin bercerita, tapi terasa sukar. Itu karena selama percakapan dengan Cloud pun, Chrysta speechless. Chrysta mencoba mengingat kembali dari awal hingga akhir. Tapi dia seperti terkena amnesia sesaat. Kalimat yang terucap dari Chrysta hanya ‘nggak tahu’ dengan muka pasrah.
“Lho kok nggak tahu sih?” tanya Ryna. “Coba ceritakan pelan-pelan.”
Chrysta pun mencoba menceritakannya.
***
Cuaca masih saja gerimis. Kegelisahanku sedikit menghilang setelah melihat Cloud datang. Rasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi masih menghantuiku. Kemudian kita berdua duduk di tepi pendopo.
“Ada apa?” tanyaku to the point.
“Sebentar, sebentar. Emm, aku bingung mau mulai darimana.” Cloud tampak berpikir keras lalu dia meminta agar aku bercerita lebih dulu.
“Cerita apa? Aku nggak punya cerita untuk diceritakan deh kayaknya.”
“Ya cerita apa pun lah, terserah kamu. Aku belum terlalu siap buat ngomong tentang aku. Cerita tentang workshop yang baru kamu ikuti tadi juga boleh.”
“Workshop? Ya, seperti workshop-workshop yang lain. Dapat materi terus dipraktekan secara langsung. Cuma itu. Nggak ada kisah istimewa yang terjadi.”
Cloud hanya ber’ooh’ dan mengangguk. Tapi tetap saja terlihat dia sedang berpikir. Diam sejenak. Aku menunggu.
“Jadi, sebenarnya ada apa?” tanyaku lagi memecah keheningan. Cloud pun menegakkan tubuhnya dan mengambil nafas panjang. Terlihat dia akan memulainya.
“Kamu ingat waktu aku bilang masih dilema untuk masuk rohis karena ada kontradiksi?”
“Iya, aku ingat,” jawabku dan seketika itu terlintas pikiran bahwa aku yang dia maksud.
“Sebenarnya kontradiksi yang aku maksud itu ada hubungannya sama kamu.”
Deg! Satu dari beberapa tebakanku selama ini terkuak, tepat. Tapi untuk meyakinkan diriku sendiri, aku hanya berekspresi bingung. Cloud pun mulai berpikir lagi, bagaimana cara untuk mengungkapkan maksudnya dengan lebih mudah. Akhirnya dia me-recall semua dari awal, dari mimpinya pertama kali tentangku.
“Ingat dulu waktu aku cerita tentang mimpiku? Mimpi kamu dengan Octa.”
Pikiranku melayang ke masa lalu ketika awal-awal kita mulai dekat. “Ah! Iya, aku ingat. Yang kamu bilang di mimpi itu aku dekat sekali dengan Octa, kan? Padahal Octa sudah punya kekasih dalam realitanya. Heran, kenapa malah aku yang bersama Octa.”
“Aku juga nggak tahu. Memang beberapa hari itu aku sering kepikiran kamu.”
“Kok bisa?” kataku dengan heran. “Jangan-jangan yang aku bilang kalau kamu cemburu itu benar? Karena waktu itu respon kamu nggak menerima tapi juga nggak menyangkal. Cuma bilang ‘mungkin’ dengan ekspresi yang sedikit serius. Padahal aku bilang cemburu itu bercanda lho.”
“Yah, begitulah. Aku juga sebenarnya cemburu kok tentang skandal pra-wedding kamu sama Danny.”
Glek! Aku bingung mau merespon apa.
“Emm, dulu juga waktu ada dua acara Rohis, yang satu tahunan dan yang satu jalan-jalan ke pantai, aku ngajak kamu kan? Personality lho.”
Aku mulai sedikit menangkap ‘sinyal’ tetapi masih dalam diam.
“Kamu tahu kenapa?”
“Emmm…” gumamku mencoba berpikir.
“Duh, gimana ya?” kata Cloud bingung lalu menatapku dan berkata,” Intinya...” Dia diam sejenak, masih menatapku, aku pun masih menunggu lanjutannya. 
“Aku suka Chrysta.”

next : AyCS 8 bagian 2

0 comment:

Post a Comment

Powered by Blogger.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management