Wednesday, January 10, 2018

Mata || eLis.ta

Apa yang mampu menghentikan
Pesona menggairahkan dan
Menggelitik batin,
Ketika cakrawala yang kukagumi
Kau rebut dan simpan
Dalam pandangan mata jenaka
Yang menggoda iman.

Yk.1217

Wednesday, January 03, 2018

Biarkan Aku Bercinta || eLis.ta

Kudengar samar-samar trompet berbunyi
Diiringi ledakan kembang api.
Mesin-mesin berbaris di jalan,
Kaki-kaki pun berhamburan.
Tapi aku tetap di sini, acuh tak peduli.

Malam yang mereka rayakan itu,
Kurayakan dengan bercinta.

Friday, December 15, 2017

Just Say It



Hari hari berlalu, tanpa tahu kapan kau ‘kan berlalu dari benak dan hatiku.
~ elis.ta ‘10~

Aku tak suka melihatmu, menangis sendirian di suatu tempat yang tak ku ketahui.
~ comic : Honey 8 ~

Mungkin aku akan dapatkan sebuah kebahagiaan baru, bukan karena dirimu, juga bukan denganmu.
Terima kasih. Terima kasih kepadamu, karena telah membuka mataku untuk tak lagi melihat ke arahmu, meskipun ini menggores hatiku.
~ elis.ta, Mei ‘10~

Aku menyukainya. Walau tak bisa kukatakan, walau tak bisa bersama, perasaan ini tak akan berubah. Kebahagiaannyalah yang kuinginkan.
~ comic : Angle’s Happiness 2 ~

Kau telah jauh pergi, melangkah ke depan meninggalkanku.
Namun aku masih berdiam dan hanya mampu melihatmu dari mimpiku.
Aku tak pernah selangkahpun pergi dari masa laluku, pergi dari kenangan kita, pergi dari sosokmu…
Aku selalu di belakangmu,..
 Aku selalu memikirkan, aku selalu merindukan,..
Meski kau tak pernah tahu itu.
~ elis.ta ~

Melihat orang yang kita suka mencintai orang lain, memang jauh lebih berat dari kata-kata.
~ comic : The Shortest Poetry for You ~

Tawa di saat manis, bertahan di saat pahit. Semua itu karena cinta.
~ comic : The Shortest Poetry for You ~

Akan sangat bahagia bila ada seseorang yang tulus mempehatikan kita.
~ comic : The Shortest Poetry for You ~

Aku mengagumimu karena aku mencintaimu. Aku hanya akan melihatmu saja.
~ comic : The Shortest Poetry for You ~

Kalau ada yang bersikap lembut, apa kau tak sedikitpun merasakan kebahagiaan?
~ comic : Honey 6 ~

Aku senang bisa disukai siapa pun. Tapi kalau bisa aku ingin disukai olehmu.
~ comic : It had to be You ~

Sejak kapan hanya ada dia di dalam hatiku?
Cuma dia yang bisa membuatku jatuh cinta.
~ comic : It had to be You ~

Bunga yang mekar di langit malam,
Suaranya yang menggema,
Getaran kembang api ini, pasti menggema di hati kita berdua.
~ comic : Silent Love Song 1 ~

Andaipun jalan yang terbentang adalah laut yang luas dan dalam,
Apa aku bisa menyelaminya bersamamu?
Saling meneriakkan suara hati dengan debaran ini sebagai pemandu…
~ comic : Silent Love Song 1 ~

Tak ada hal yang lebih menyedihkan daripada ditinggalkan sendirian oleh orang yang kita saying.
~ comic : Honey 6 ~

Tak ada tempat untukmu di dalam hatiku yang penuh dirinya.
~ comic : ÃŸißi 6 ~

Thursday, December 14, 2017

The Very Short Story

He is fated to win.
And there is a heart, broken again.
She keeps and hides him within
For he is her favorite sin.

Yk1117

[There was a woman whose heart unknowingly had fallen in love with a man. He won over her heart, but at the same time her heart broke since it was a forbidden and one-sided love. Yet, she kept loving him secretly. The End ]

Sunday, December 10, 2017

Just



Don’t give me roses, just poetry
Don’t send me songs, just sing for me
Don’t offer me money, just your glee
Don’t bring me anything, just your contiguity;
Your time being with me, and only me.


Thursday, November 30, 2017

His Smile

To see his smile
Just for three minutes,
It’s enough to fill her secret longing
And keep the happy feeling
Within.

Tuesday, July 11, 2017

Your Absence by Candice James



Your Absence
Never gives way to relief.

When you're gone
It's a pause between centuries.
Everything ceases to please

Your absence
If it ever became permanent
is something
More frightening than death.


Thursday, April 20, 2017

Teruntuk Lelaki Penggila Semesta (#Surat Untuk Februari 2017#)

Kau datang tiba-tiba
Antara aku dengan Angka.
Membawa keindahan mentari, senja, bahkan semesta,
Yang belum pernah kujumpa.

Begitu cepat kedekatan kita
Hingga pernah kita berbagi suka duka,
Dan juga rahasia masa lalu kita
Di bawah jingganya langit senja.

Friday, March 31, 2017

Teruntuk yang Masih Berkutat dengan Angka || eLis.ta

Sekelebat rasa yang tak karuan,
Bercampur teraduk-aduk
Hanya dengan teduhnya sepasang mata
Yang menatap di balik kacamata baca.
Senyum rekahnya rupanya cukup jadi alasan
Hati beku yang akhirnya sempat takluk
Di hadapanmu, tak pernah kusangka
Hati ini lemah tak berdaya.

Sunday, March 19, 2017

Teruntuk Lelaki Pecandu Angka

Pada angka kau terlalu terpaku,
Hingga lupa pada sekelilingmu.
Cinta yang tanpa sadar sempat kau rengkuh dulu,
Perlahan-lahan lari darimu.
Bukankah ini mauku? Harusnya ini memang mauku.
Tapi terlanjur ada sebuah keinginanku,
Menitipkan Cinta pada genggamanmu.

Friday, March 17, 2017

Teruntuk Lelaki Perengkuh Cinta || eLis.ta

Bayang-bayangmu yang kupandang,
Membuatku berakhir dengan keheranan.
Gagal kupahami yang telah kau lakukan,
Hingga Cinta berhasil kau bawa terbang.

Thursday, March 16, 2017

Teruntuk Cinta di Bulan Februari

Tiap kali hadir, kau selalu membawa keresahan.
Lelah sudah aku dengan kedatangan.
Haruskah kali ini aku mengenal kembali kepercayaan?

Kau tumbuh dalam gubug kecil bernama Hati.
Memaksa keluar dan berhasil membuatnya berseteru dengan Akal.
Padahal, bertahun-tahun sudah kubangun pertahanan,
Dengan mudahnya kau runtuhkan.
“Cinta, jangan kau lakukan!
Kau lebih aman dalam persembunyian.”
Namun, kau mengabaikan.
Dan kini kau dalam rengkuhnya, sungguh keterlaluan.

Thursday, February 09, 2017

Senja yang Pergi

Meski senja berlalu pergi
Bukankah ia akan selalu kembali
Tanpa perlu kau nanti-nanti?
Meski senja menjadi sepi
Karena jingganya yang tertutupi,
Senja takkan pernah pergi.
Mungkin justru kau yang berpaling hati,
Meninggalkan senja yang setia melayani,
Di balik awan kelam malah ia yang setia menanti.
oleh elis.ta 
respon untuk W.O.S 

Tuesday, July 19, 2016

Kenangan Terakhir




'Aku hanya bisa melihat namanya, terukir dalam sebuah nisan.'

'Aku sadar, aku mungkin tidak bisa merasakan perasaan-perasaan yang sama lagi ketika aku jatuh cinta padanya dengan orang lain, karena dia hanya ada satu, tidak ada yang bisa disamakan dengannya. Aku pun tak yakin apakah aku bisa jatuh cinta lagi, sebesar aku menyukainya. Tetapi, bagaimana pun dan seperti apa pun hatiku nanti, aku tidak akan membiarkannya tersembunyi lagi.'

Penyesalan selalu datang terlambat, menciptakan rasa sesak yang menyiksa, yang mungkin akan terobati oleh waktu, dan oleh keikhlasan. Tiap orang pasti memiliki penyesalan dalam hidup mereka. Begitu pun aku. Satu penyesalan terbesarku, yang belum terobati hingga sekarang, adalah terlambat dalam bertindak.

Saturday, June 04, 2016

Maze Traveler (Penjelajah Labirin) - Labirin Pohon I

Bagian 3
Labirin Pohon (I)


Aku terengah-engah. Aku merasa nafasku hampir habis. Aku berhenti dan bersandar menyamping pada pohon tinggi di sebelahku. Sunyi. Hanya suara berat nafasku yang kudengar. Aku mencoba mengatur nafasku, sembari menatap kaki telanjangku. Penuh goresan luka, tapi aku biarkan.

Aku tidak memahami apapun. Hanya ketakutan lagi yang kurasa. Tersesat. Lagi-lagi aku tersesat. Aku ingin segera keluar dari tempat ini. Tapi bagaimana? Kakiku mulai kelelahan, bahkan untuk berjalan.

Satu persatu wajah mereka kembali membayangi. Mereka seakan enggan untuk enyah dari pikiranku, sekalipun aku berlari dan berteriak, sekalipun aku menghindari atau mengusir mereka. Sakit. Aku meringkuk kesakitan. Bukan karena goresan kakiku. Sakit yang bahkan aku sendiri tak dapat melihat dan mengobatinya.

Mataku perlahan memejam. Lelah dan sakit ini, apakah aku akan berakhir di sini? Ataukah ada lagi yang akan muncul menolongku? Seperti yang dilakukan Rez sesaat setelah aku memasuki hutan ini.
***
Ialah Rez, sosok laki-laki yang menolongku ketika aku tenggelam ke dasar sungai beberapa saat setelah aku keluar dari Padang Rumput Kebahagiaan. Aku pikir aku beruntung karena ada seseorang bersamaku. Tetapi tidak. Rez pergi menghilang begitu saja. Selama waktu yang singkat bersamanya, kita tidak pernah benar-benar saling berbicara. Aku hanya mengingatnya, satu paket dengan gitar yang tidak pernah dia mainkan. Tanpa Rez, aku kembali meyusuri hutan gelap sendiri.

Waktu telah berlalu sejak Rez menghilang. Sebanyak apa, dan sejauh mana telah kulewati waktu di hutan ini, aku tidak tahu pasti. Tak jarang pula aku ingin kembali ke padang rumput hijau itu dan menghabiskan waktu membuat pesawat kertas. Samar-samar aku mendengar suara aneh mendekat dari balik punggungku. Seperti gesekan antara roda dengan daun-daun kering dan tanah. Aku menoleh ke belakang. Seorang anak laki-laki tiba-tiba berhenti tepat di belakangku dengan sepedanya. Aku tersontak, tapi dia justru tersenyum. Senyuman kemenangan karena dia berhasil mengejutkanku.

Wajahnya begitu familiar. Aku merasa sudah lama mengenalnya, dan merindukannya. Sangat. Tanpa sadar, dan tanpa ragu-ragu, aku membalas senyumnya itu. Dia turun dari sepedanya, menarik tanganku, mengajakku pergi dari tempat itu. Sembari mengikutinya, aku melihat ke belakang, ke arah sepeda yang ia tinggalkan. Sepeda itu lenyap menjadi debu, dan menghilang seperti diterbangkan angin. Aku berhenti, mengerutkan kening. Lalu anak laki-laki itu menarik-narik lagi tanganku. Wajah polos dan senyuman manisnya seolah mencekik leherku. Sakit. “Akankah anak ini menghilang seperti sepeda itu?” batinku.

Sekelilingku tampak sama. Hanya pepohonan besar nan kokoh yang ujungnya bahkan tak dapat kulihat. Aku tidak tahu kemana anak itu akan membawaku. Dalam diam, aku memperhatikannya. Lagi - lagi ada yang aneh. Entah bagaimana aku merasa dia berubah, tumbuh menjadi dewasa perlahan secara fisik. Anak manis tadi telah berubah menjadi sosok laki-laki yang cukup tampan. Namun, aku tetap diam. Tak ada pertanyaan apapun, dan tak ada penjelasan apapun. Bagaimana itu mungkin, aku saja tak dapat berbicara. Tapi aku tidak peduli, asalkan dia terus bersamaku.

Hutan semakin gelap. Dia menghentikan langkahnya, dan melepaskan genggamannya dariku. Aku dimintanya untuk beristirahat, sedangkan dia mengumpulkan ranting-ranting kayu untuk dibakar. Rasa kantuk mulai menyerangku, tapi aku takkan membiarkan mataku terpejam. Aku tak ingin terbangun dan mendapati diriku sendirian lagi. Tetapi aku gagal mengalahkan kantukku. Saat itu, sangat nyaman dan hangat, aku terlelap.

Aku membuka mata perlahan. Hutan lebat ini, meski siang pun akan tetap gelap, meskipun akan lebih gelap ketika malam. Aku melihat sekelilingku. Aku sadar akan sesuatu. Tidak ada. Dia tidak ada! “Gat!!” sontak aku meneriakkan nama itu. Aku terkejut sendiri. Bukan karena nama yang ku teriakkan, tapi pada kenyataan bahwa aku bisa bicara. Apa karena aku telah keluar dari padang rumput itu? Entahlah. Tanpa pikir panjang, aku bangun dan mulai mencari lelaki yang kusebut Gat. Tak hentinya aku menggumamkan nama itu. Aku tak yakin, tapi nama itu menjadi panggilanku untuknya, dan ya, itu nama yang cukup aneh.

Aku terus mencarinya, tapi nihil. Bukan dia yang kutemukan, tetapi sebuah gerbang kayu yang cukup besar dan terlihat kokoh. Meski pintu gerbang itu terbuka sedikit, tubuhku masih cukup untuk memasukinya. Aku melihat seseorang di balik pintu besar itu. Aku pun berjalan mendekat. “Gat, kau kah itu?” batinku, berharap. Ternyata bukan. Laki-laki itu berdiri memandang lurus ke arahku, sembari menyandarkan dirinya pada pohon dibelakangnya. Perlahan, dia bersiap untuk beranjak dari sana. Lalu dia mengulurkan tangannya, memintaku untuk masuk ke dalam.

Aku meragu. Aku yakin Gat masih di luar. Haruskah aku masuk seorang diri? Atau kembali mecari Gat, dan datang ke tempat aneh itu bersamanya? Berkelut dengan pikiranku sendiri, laki-laki itu mulai berjalan menjauh, berjalan masuk ke dalam. Gerbang pun seolah tak memberikan banyak waktu karena ia perlahan menutup. Pada detik-detik terakhir, aku memutuskan untuk masuk.

Di balik gerbang kayu besar rupanya terdapat lorong. Bukan lorong bangunan, melainkan lorong yang terbentuk dari dahan-dahan pohon yang saling melilit satu sama lain. Sesaat aku tahu, lorong ini telah membentuk labirin, labirin dari pohon-pohon besar dan pohon-pohon merambat.

Sebelum aku berbelok ke kiri untuk meneruskan masuk ke dalam labirin dan sebelum pintu gerbang benar-benar tertutup, aku memandangi hutan gelap di luar gerbang.
“Apakah aku meninggalkan Gat? Atau dari awal aku yang sudah ia tinggalkan?”
Apapun itu, aku berharap dapat bertemu dengannya lagi.
~~~ 

Tuesday, May 03, 2016

Maze Traveler (Penjelajah Labirin) - Labirin Lain

Bagian 2

Labirin Lain

Waktu demi waktu berlalu. Ia berputar dengan lambat. Atau justru sangat cepat sehingga aku merasa waktu bergulir lambat? Tidak lagi paham aku akan waktu.

Aku teringat ketika pertama kali keluar dari labirin kaca. Bukan dunia yang kukenal yang kurindukan. Hanya sebuah pintu, yang diikuti pintu lain di baliknya. Tidak ada yang lain kecuali pintu dengan dinding, lantai, dan atap yang serba putih.

Thursday, February 04, 2016

Maze Traveler (Penjelajah Labirin) - Labirin Kaca

Bagian 1
Labirin Kaca

Aku seperti dalam ruang yang cukup gelap dan penuh cermin setinggi lima meter. Ke mana pun aku pergi, hanya ada cermin. Sepanjang jalan yang berliku yang aku susuri, hanya ada aku dan pantulan-pantulan diriku, diriku yang lain. Mereka bukan aku, tapi kita sama.
Aku terus berjalan mencari jalan keluar. Semakin lama semakin menyesakkan. Kupercepat jalanku lalu aku mulai berlari kecil. Seluas apakah labirin ini? Sejauh mana aku harus menjelajahinya? Dan selama apa aku dapat bertahan? Bingung menghampiri, dan cemas pun merajai. Aku merasa ketakutan sendiri melihat sosok-sosok yang berlari dengan kecepatan yang sama namun tubuh yang berbeda. Mereka bukan aku dan kita tidak lagi sama.
Siapa mereka? Mereka tampak mengerikan. Aku berlari makin cepat, berusaha menjauh dari mereka. Tapi mereka tetap mengejarku. Begitu ketakutan, aku tak bisa menggunakan akalku dengan benar. Aku berlari tanpa tahu arah. Berbelok, berbelok, dan berbelok. Berlari dan terus berlari. Aku tidak menemukan jalan keluar, tapi jalan buntu. Aku terjatuh, terpojok dan aku terengah-engah. Aku berbalik ke belakang, sosok-sosok mengerikan itu menghilang. Aku duduk memeluk kedua lututku, dan kutundukkan kepalaku bersandar pada lututku. Aku merasa haus dan lapar, tapi tak ada apa pun di sini. Aku menangis, tapi itu hanya membuatku semakin haus dan lapar. Kuusap air mataku dan dengan lemas, aku mencoba berdiri. Aku berpegang pada dinding di sisiku. Dan lagi, aku melihat sosok dalam cermin. Terkaget, aku melangkah mundur hingga menabrak sisi dinding yang lain, dinding cermin. Menyedihkan. Mereka menyedihkan dan mengerikan. Tidak terlihat kebahagiaan, namun hanya kesepian dan ketakutan. Langit dan lantai pun berubah menjadi cermin. Mereka semua muncul dari segala sudut, mereka yang terlihat jahat dan penuh kesedihan.
Tempat apa ini sebenarnya? Di mana aku? Dan siapakah mereka? Aku terdiam, pikiranku kosong sesaat. Kenapa aku harus bertanya siapa mereka? Bukankah jelas mereka adalah aku.
Ya. Mereka adalah aku. Lalu siapa aku sebenarnya? Siapa? Aku adalah mereka semua, mereka yang menunjukkan betapa buruknya aku: penuh kecurigaan, ketakutan dan kepedihan yang akhirnya menimbulkan kebencian pada kehidupan. Kecurigaan akan tingkah laku tiap orang. Ketakutan akan kehilangan dan ketakutan akan dibenci dan dilupakan. Kepedihan karena telah merasakan banyak kehilangan dan kebencian serta terlupakan. Aku menganggap mereka tidak pernah ada. Yang kulakukan hanya berlari menjauh. Pergi menjauh karena aku tidak ingin menganggap mereka adalah bagian dari diriku.
Kuberanikan diri mendekat pada salah satu sosok menyedihkan dalam cermin. Kuamati sosok tersebut. Perlahan semua sosok-sosok dalam cermin menyamai sosok itu. Tidak kuasa aku menahan tangis dan terucap kata maaf dari bibirku. Begitu rapuhnya kah aku serapuh sosok yang sedang kuamati itu? Salahku telah membiarkan dia sendiri. Salahku telah memisahkan diriku dan menganggap dia tidak ada. Salahku hanya berlari menjauh dari sosok itu, bukan membawanya bersamaku mencari jalan keluar dan meraih kegembiraan.
“Aku adalah kamu. Kamu adalah aku.”
Aku menerimanya sebagai bagian dari diriku. Aku menerimanya sebagai aku yang penuh kecurigaan, ketakutan, kesepian, kepedihan, dan kebencian. Aku tidak akan lagi berlari menjauh, tetapi berbalik menghadapi dan menerima. Akan aku terima semua, aku hadapi semua perasaan dan keadaan, lalu kuubah perlahan menjadi sesuatu yang lebih menyenangkan.

Labirin ini menunjukkan diriku yang lain, diriku yang sebenarnya. Namun, labirin ini masih membuatku tersesat. Aku masih harus mencari jalan keluar. Dan perjalananku sepertinya masih panjang.

Monday, December 14, 2015

TAMENG “BE YOURSELF”

Be yourself atau jadi diri sendiri itu apa sih sebenernya? Perlu banget kah kita bersikap jadi diri sendiri?
Sesuai sebutannya, be yourself means “to behave in your usual manner, rather than behaving in a way you think other people might like”. Maksudnya, kamu nggak perlu bertindak dan berpikir seperti apa yang orang lain inginkan dari kamu. Jujur apa adanya. Misal, kamu suka musik dangdut tapi pacar kamu sukanya musik rock. Terus kamu pindah haluan ke musik rock, padahal kamu nggak pernah suka musik itu. Nah itu berarti kamu nggak be yourself.
Aku yakin, banyak orang paham makna dari be yourself. Sayangnya, beberapa dari kita sedikit salah kaprah. Karena be yourself selalu digembor-gemborkan sebagai sesuatu yang membanggakan, seolah-olah semua orang harus seperti itu. Aku setuju sih. Semua orang memang harus jadi diri sendiri. Toh dengan kita jadi diri sendiri, kita jadi lebih nyaman dengan diri kita dan kita juga tahu orang-orang mana yang bisa tulus terima kita apa adanya.
Tapi perlu diingat, kalau bisa dicatat sekalian,

Thursday, July 02, 2015

Ternyata!! (Dreamstory)

TERNYATA!!
Di suatu rumah, yang gue kenal itu adalah rumah tetangga gue, berkumpulah beberapa perempuan yang rumpi dan heboh ngomongin perjodohan di ruang tamu. Gue di situ cuma jadi penyimak mereka. Ternyata mereka ribut gara-gara si U bakal dijodohkan. Mereka semua penasaran laki-laki seperti apa yang bakal dijodohkan dengannya, bahkan si U sendiri nggak tahu. Gue juga penasaran sih sebenarnya, tapi gue diam aja. Lalu keluarlah seorang tante-tante, yang ternyata dia adalah ibu dari si U. Dia minta si U untuk berdandan yang cantik dibantu yang lain.
Di situ, gue nggak tahu gue jadi siapanya mereka. Entah antara tetanggaan atau saudaraan. Wajah mereka semua asing. Tapi satu hal yang gue yakin, perlakuan cuek mereka ke gue seolah-olah hubungan kita menggambarkan keadaan Cinderella sama ibu tiri dan saudari-saudari tirinya atau semacam Ande-Ande Lumut dan Klenting Kuning atau Bawang Merah Bawang Putih atau lagi Si Upik Abu.

Saturday, January 31, 2015

One Piece part IV

SABAODY ARCHIPELAGO : Separation
(start from 385)
Duval
Pasukan Ikan Terbang
Hachi
Camie
Papagu
Charlos - Tenryuubito
Rusward - Tenryuubito


Sharlia - Tenryubito
Silver Rayleigh
Shakky
Capone 'gang' Bege - 138 juta beri
Basil Hawkins - Captain - 249 juta beri
Jambarl (Masih Budak - Calon anggotanya Law)
Jewelry Boney - Captain - 140 juta beri
Killer - 162 juta beri
Scrathmen Apoo - 198 juta beri
X-Drake - 222 juta beri
Urouge - 108 juta beri
Eustass Kid - Captain - 315 juta beri
Kid's Crew
'Dokter Gelap' Trafalgar Law - Kapten - 200 juta beri
Three Captains ready to attack Marine

Sentoumaru
Admiral Kizaru
Rayleigh v.s. Kizaru
Luffy n friends vs Pacifista
RESCUING ACE
Impel Down - Luffy's Adventures
Penjara Impel Down - Penjara Bawah Laut
Gerbang Masuk Impel Down
Kepala Sipir - Magellan

Wakil Kepala Sipir - Hanyabal

Domino
Saldeath 
Blugori
Sadi-chan



Captain Buggy
Former Sichibukai - Crocodile



Emporio Ivankov - Anggota Revolusi
Inazuma - Anggota Revolusi
Shichibukai - Jimbei
Galdino - Mr. 3
Power Combination
Bonclay - Mr. 2 fight together with Luffy



Kurohige's Arrival at Impel Down
MARINE FORD : GREAT WAR
Persiapan Perang 
ADMIRAL



Sengoku 
SHICIBUKAI




Gecko Moria
SHIROHIGE'S ARRIVAL
Edward Newgate / Shirohige
Marco - Divisi 1 



Little Oars
Komandan Jill - Divisi 14
Kaken no Vista - Divisi 5
Si Penyihir Es White Bay












 
Seigyu Atmos - Divisi 13
Few Flashback




Thatch - Komandan Divisi 4


Young Edward Newgate
During the War
Luffy's Arrival
Hancock Imagination
Kemampuan paling menakutkan
Ace Berhasil Bebas dari Borgol Batu Laut
Kurohige with new crews from Impel Down




The End of the War
Red Hair Shanks' Arrival
Benn Beckman











Law, Jambarl - trying to save Luffy and Jimbei
Luffy's Operation in Law's Ship

SEPARATION DURING 2 YEARS
The Adventures of Luffy's Crews
Zorro in Gloomy Island - Kuraigana Island
                Before Great War



               After Great War


Nami in Weatheria (mini Sky Island?)
              




Ussop in Bowin Archipelago
                Before Great War

               After Great War

Sanji in Momoiro Island - Pulau Impian
               Before Great War

               After Great War

Chopper in Torino Island? - Pulau Harta - Kerajaan Torino
               Before Great War

               After Great War

Robbin in Tequila Wolf?
              Before Great War

              After Great War


Franky in ?? - Kerajaan Masa Depan Blgemore
             Before Great War


             After Great War


Brook in Poverty Island
               Before Great War

               After Great War

SPECIAL : Luffy's Experiences Before and After the Death of Ace
Before Going to Marine ford
Kuja Island


Margareth
Aphelandra
Marygold
Sandarsonia
Nyonba / Gloriosa
Momonga - picks Hancock up to Impel Down
After Leaving Marine Ford
          Flashback : Little Luffy's Adventures














Ace Sabo Luffy





Revolusioner - Dragon's crew
Ace 17 years old - going to the sea
Luffy 17 years old - going to the sea
          Luffy's Practicing with Reyleigh
Rusukaina Island






SABAODY ARCHIPELAGO : Reunite






Perona - Helping Zorro the direction





Brook's Manager
You-know-who
Shakky
Duval and Friends
Imposter
Just Imposter
Imposter of Luffy's crew





Pacifista and Sentoumaru?
REUNITED
Starting New Journey
See You Next Part of One Piece Galleries :)

Powered by Blogger.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management